Rabu, 05 Desember 2012
SAHABAT TERAKHIR
Teman-teman tahu
kenapa aku menulis judul ini, karena sahabat itu bias mengajarkan kita arti
sebuah kehidupan. Kalian mau tahu kenapa, mari simak ceritaku berikut.
Namaku Chairani
Anastasia, teman-temanku biasa memanggilku Rani, aku tinggal di sebuah
perumahan baru di jalan Alamanda No.17 Jakarta Selatan. Pagi ini benar-benar
pagi yang sangat berat bagiku, baru saja kemarin aku meninggalkan rumah lamaku
dan berpindah ke tempat yang menurutku masih agak asing.
Rani, rani, udah
pagi sayang nanti kamu telat loh….,” terdengar sahutan dari luar yang tak lain
adalah mamaku sendiri.
“ Rani, ayo
cepatlah bangun sayang, bukannya ini hari pertama kamu masuk sekolah baru,”
Akhirnya, mau
tak mau aku harus bangkit dan membuka pintu. “iya, ma aku tau, ya udah aku
mandi dulu.” Ucapku, “mama tunggu di bawah, cepat ya Ran, ntar kamu telat,”
sembari mama turun kemeja makan.
Aku ingat karena
papa dipindah tugaskan, aku harus meninggalkan sekolah lama ku dan pindah
sekolah di sekolah baru ini. “ma aku berangkat dulu,”.
“Eh, sarapan
dulu, ran,”ucap mamaku.
“nggak deh, ma, aku
udah telat he..”
“kalau begitu
ini bekal untuk di sekolah”
“makasih ma, aku
berangkat.”
Aku bersekolah
di salah satu sekolah SMA swasta ternama di daerah ini, “pagi ini benar-benar
pagi yang buruk ku rasa,” ucapku dalam hati. Tak lama berselang….” Aduh, ucapku
meringgis, seseorang telah menabrakku hingga jatuh, “eh….maaf.” katanya. Iya ,
aku minta maaf juga, kamu nggak apa-apa kan? “ tanyaku sembari membantu
membereskan buku yang terjatuh. “ Aku nggak apa-apa, kamu baru ya disini? “
tanyanya padaku. “ iya nih, ini hari pertamaku sekolah di sini. O ya, namaku
Chairani Anastasia, panggil saja Rani.” Aku mengulurkan tangan. “aku
Keira,Keira Handayani sambil membalas uluran tanganku. Singkatnya, sejak
kejadian itulah aku memulai sebuah hubungan pertemanan yang berproses menjadi
sebuah persahabatan.
Hari-hari sering
kami lewati berdua entah karena apa, kami merasa cocok dan saling tersambung untuk menjalin hubungan pertemanan. Kini tak terasa aku sudah 2 tahun mengenalnya,
tapi yang aneh bagiku, aku tak biasa melihat tingkahnya yang aneh dan
seringkali aku melihatnya meminum obat yang bisa tergolong banyak, tapi setiap
aku bertanya dia selalu menghindar dengan menjawab, “aku cuma konsumsi vitamin
harian kok “. Bukan Rani namanya, jika bisa dibohongi, aku berada dalam
kepura-puraan hidup, berpura-pura percaya bahwa sahabatku meminum vitamin yang
kucurigai bukan vitamin.
Setiap kali aku
melihatnya mengkonsumsi benda yang aneh bagiku, aku selalu bertanya-tanya dalam
hati apakah sahabatku sakit atau kenapa? Sayangnya sampai sekarang masih belum
ku ketahui. Pernah suatu kali aku memandanginya batuk dengan suara yang keras
dan ia menampung batuknya dengan sapu tangan berwarna putih terang, aku melihat
warna itu, tetapi ASTAGA!!! Sapu tangan tadi berwarna merah darah. Sedih,
terasa sangat sedih yang kurasakan. Ingin kuhampiri dia tapi aku tidak ingin
membongkar kedokku untuk menghilangkan rasa penasaranku.
Aha…!!! Aku
punya ide bagaimana jika aku berkunjung kerumahnya, tanpa sepengetahuannya.
Esoknya aku pergi karena mumpung hari libur dan kebetulan Keira juga tengah les, sesampainya aku di rumah Keira
aku segera membunyikan bel yang ada di samping pintu.
Teng…teng…teng….terdengar
suara bel yang berbunyi dari dalam. Tak lama berselang seorang paruh baya (yang
tak lain dan tak bukan adalah mama Keira)
“Eh, Rani. Apa
kabar”. Katanya.
“ Kabar baik,
Tante”. Jawabku.
“ Mari masuk”.
Ucapnya. Sembari aku masuk dan duduk. “Ada yang bisa tante bantu nih?”
tanyanya.
“Ada Keiranya
tante?” tanyaku pura-pura tak tahu kalau sahabatku hari ini les.
“Oh Keiranya
lagi les.”
“Hmm…Tante saya
mau Tanya?” Tanya apa” mudah-mudahan tante bisa jawabnya, Rani.
“Maaf sebelumnya
tante, apa Keira sedang sakit atau kenapa?”
“ Keira tidak
sakit kok.”jawab tante Rosa padaku dengan terbata-bata dan agak ragu dan raut
sedih.
“saya mau tante
jujur, saya menanyakan ini karena saya penasaran dengan sikap Keira yang
berubah beberapa minggu ini?”
“Oh, maaf ya
Rani, tante harus siap-siap nich karena ada acara di luar, lain kali saja ya
kamu kesini kalo Keiranya ada.” Ucap tante Rosa yang tiba-tiba menghindar
dengan pertanyaanku.
Aku hanya bisa
diam dan segera pamit pulang dan membuatku semakin penasaran akan keanehan
semua ini.
Di kelas aku
melihat kejadian yang sama lagi-lagi sahabatku batuk berdarah, tanpa aba-aba
aku langsung saja menghampirinya.
“ Keira, kamu
sakit ya “.
“ Enggak kok”.
Sambil menyimpan sapu tangannya.
“Terus apaan?”
“Nggak ada kok,
Cuma batuk biasa”.
“Batuk biasa
apaan?Batuk kamu itu berdarah, kamu pasti sakit keras yak an? ”nadaku memuncak.
Keira terdiam, sepertinya tengah berpikir. “ Ran, aku Cuma kecapean aja kok.
Kamu tau kan jadwal aku padat, makanya aku sering mimisan “. Ucap Rani sedih.
Akhirnya rasa
penasaranku telah hilang, aku sedih melihat dia terlalu letih, sebagai seorang
sahabat aku hanya mampu menasehatinya. Ini sudah seminggu Keira belum sekolah,
belum sempat aku menjengukya sekalipun. Hari
ini kuniatkan diri untuk menjenguknya. Aku
mengetuk pintu rumah Keira, tampak seorang yang tak lain dan tak bukan adalah
Mama Keira, membukakan pintu.
“Siang tante”.
Sapaku hangat.
“Siang Rani”.
Aku dipersilakan
masuk, aku duduk sambil menunggu hidangan yang sedang dipersiapkan mama Keira.
“Keiranya ada
tante?”
“wah, Keiranya lagi
liburan nak”.
“Tapi aneh ya
tante, tumben aja Keira pergi liburan nggak bilang-bilang ke aku “. Ucapku
heran, aku melihat air mata tengah menuruni pipi mama Keira.
“Tante sebaiknya
tante jujur aja, ada apa dengan Keira sebenarnya?”
“ Ran,
sebenarnya Keira itu sakit kanker otak stadium 3, sudah lama ia seperti ini
sejak ia masih dibangku SD Ran”.
“Jadi bukan
karena kelelahan tante?”aku ikut menangis.
Teganya
sahabatku membohongi diriku sendiri. Aku langsung menuju ke kamar Keira, aku
ingin menemuinya.
“Keira sudah
tidak disini sayang”. “lalu kemana dia tante?”nadaku memaksa.
“Sekarang dia
lagi di Singapura menjalani Kemo terapi, rencananya besok tante akan ke sana”.
“Oh ya, bisa
nggak tante bilangin ke Keira kalau aku sangat merindukan kehadirannya dan berharap
dia cepat sembuh, ini nomor telepon aku”. Aku menyerahkan kertas berisi nomor
teleponku.
Lama menunggu,
aku belum mendapat kabar dari Keira, hatiku sudah rindu untuk memeluknya. Dan
keesokkan harinya aku mendapatkan pesan singkat dari Mama Keira. Aku menangis
sekeras-kerasnya saat membaca pesan itu.
“Rani, tadi
makan Keira cerita ke Tante kalau dia beruntung mempunyai sahabat terakhir
seperti kamu. Tadi pagi di dalam dekapan tante dia sudah mendahului kita”.
Jumat, 09 November 2012
Hi....My name is Dian khairannisa.You can call me Dian.I live in Gulai Bancah,Bukittinggi,Sumatra Barat
I was born in bukittinggi on september 6 1997.
my hobby is travelling.
Thank you ^-^
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
